Essay pertamaku, ffuh...
Aku tidak mengeluh lelah ataupun
kesal, saat aku berhasil membuatnya entah seperti ada angin bertiup membawa
kabar gembira. Ya, aku berhasil.. aku berhasil menepati janji.
Kehidupan
adalah sebuah proses, sebuah kesempatan yang diberikan agar kita tahu siapa
diri kita dan apa yang akan kita capai. Waktu terus berjalan dari masa ke masa,
diatas dan dibawah, jatuh lalu bangkit lagi. Ini semua hal manusiawi dan lumrah
terjadi di kehidupan. Tapi yang pasti harus selalu ada perbaikan meski hanya
sebuah titik dalam kertas.
Pertama-tama
saya ingin mengucapkan syukur karena saya terlahir dalam keluarga muslim. Tak hanya
itu, orangtua juga telah menanamkan nilai-nilai islami sejak kecil. Mulai dari
mengajari saya doa-doa, membacakan cerita para Nabi atau Sahabat Nabi dan
memasukan saya ke Taman Pendidikan Al-Qur’an. Meskipun saya dimasukan ke TPA,
umi tidak pernah memaksakan saya untuk menggunakan kerudung.
“Sekedar
TREND”
Saat
duduk di bangku Sekolah Dasar tak sedikit dari teman-teman saya yang sudah
menggunakan kerudung. Alasan mereka beragam, ada yang memang diharuskan oleh
orangtuanya dan ada pula yang sekedar mengikuti gaya dari seorang anak
perempuan di televisi dalam sebuah sinetron.
Masih saya
ingat, pada saat itu alasan saya tidak mengikuti teman-teman yang lain karena
PANAS. Saya merasa belum menemukan nyaman saat menggunakan kerudung apalagi
saat itu saya masih berfikir bahwa memakai pita rambut, rok pendek dengan kaos
kaki panjang adalah hal paling keren.
Menjelang
Sekolah Menengah Pertama, orangtua menyarankan agar saya masuk sekolah Islam
Terpadu. Entah alasannya apa tiba-tiba saya begitu semangat dan langsung setuju
tanpa tahu banyak tentang sekolah yang saya pilih itu. Tanpa menunggu lama, orangtua
segera mendaftar dan sayapun resmi menjadi murid dari salah satu Sekolah
Menengah Pertama Islam Terpadu di Bekasi.
Disinilah
saya bertemu dengan sahabat-sahabat yang menurut saya mereka sudah lebih paham
tentang kewajiban menggunakan kerudung untuk perempuan islam. Awal saya
bersekolah disini kerudung hanya saya gunakan saat sekolah, sehari-hari? Masih
terbawa kebiasaan saat sekolah dulu, tanpa kerudung. Sesekali sahabat saya
mengingatkan, “pakelah kerudungnya, ya masa ketua OSIS IT gak pake kerudungan”.
Kata-kata itu memang hanya sebuah celetukan iseng, tapi saya terus
memikirkannya hingga saya memberanikan diri untuk menggunakan kerudung sejak
kelas 2 SMP. Keputusan ini disambut baik oleh orangtua khususnya umi. Umi
mengingatkan saya bahwa keputusan ini harus selamanya saya pegang karena tidak
ada kata “main-main” dalam menjalankan syariat Islam.
“Pembuktian
Diri”
Masih
terus teringat kata-kata umi saat saya memberanikan diri untuk berkerudung “tidak
ada main-main dalam menjalankan syariat Islam”. Memang tidak mudah saat kita
mencoba hal baru, tapi yakinlah dengan sepenuh hati Insyaallah semua akan
berjalan dengan baik. Salah satunya adalah kata-kata dalam buku Oki Setiana
Dewi bahwa jika kita berjuang di jalan Allah, Insyallah, Allah akan memudahkan
jalan untuk kita.
Perjalanan
hidup tidak hanya sampai disini, masih banyak hal yang harus di perjuangkan. Saat
kita tahu siapa diri ini, lalu apa cita-cita kita? Cita-cita adalah hal yang
pantas dan memang seharusnya diperjuangkan. Tanpa cita-cita kita hanya akan ada
di tahap awal dan tak pernah tahu bagaimana akhirnya.
Saat ini
saya duduk di bangku perkuliahan jurusan manajemen di salah satu universitas
swasta di Jakarta. Saya memilih jurusan ini karena saya berharap dapat menaiki
satu tingkatan lebih dekat dengan cita-cita saya yang ingin menjadi seorang
wanita karir dan mengelola sebuah perusahaan besar. Hal ini memang tidak mudah,
ini sebuah mimpi besar maka ada bayaran yang pantas untuk ditukarkan. Ya, usaha
dan kerja keras. Saya yakini, “Kau tidak
akan pernah tahu sampai kau mencobanya”
Aku sudah menyelesaikannya, tak
begitu buruk untukku..
Selesai sudah semua
0 komentar:
Posting Komentar